Monday, 16 September 2013

~ Hikmah Mencuci Tangan Ibu ~



Seorang sarjana muda yang cerdas membuat aplikasi untuk posisi manajerial disebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap pertama, dan tahap selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi. Sang direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang dalam CV anak muda tersebut. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak muda tersebut selalu mendapat peringkat pertama.

Melihat prestasi-prestasi tersebut, sang direktur pun bertanya: “Apakah Anda menerima beasiswa semasa sekolah dan kuliah?”

Anak muda itu menjawab : “Tidak pak….!”

Direktur bertanya lagi : “Apakah ayah Anda yang membayar biaya sekolah Anda?”

Anak muda itu menjawab : “Ayah saya telah meninggal dunia ketika saya baru berumur satu tahun. Seluruh biaya sekolah saya dibayarkan oleh Ibu saya..”

Lalu Direktur bertanya lagi : “Di mana ibumu bekerja?”

Dan anak muda itu menjawab : “Ibu saya bekerja sebagai seorang pencuci pakaian…”

Direktur itu meminta anak muda tersebut untuk menunjukkan tangannya. Dan anak muda itu memperlihatkan kedua tangannya yang sempurna dengan telapak tangan yang sangat halus. Melihat itu Direktur bertanya lagi : “Pernahkah Anda membantu ibu Anda mencuci pakaian sebelumnya?”

Anak muda itu menjawab : “Tidak pernah pak. Ibu saya selalu menginginkan saya belajar dan membaca banyak buku. Lagi pula, Ibu mencuci baju jauh lebih cepat ketimbang saya”

Direktur tersebut kemudian berkata : “Saya punya satu permintaan. Sekarang anda pulang dan ketika nanti anda sampai di rumah, cuci dan bersihkan tangan ibumu, kemudian temui saya besok pagi”

Anak muda tersebut merasa kesempatannya mendapat pekerjaan tersebut sangat besar. Karena itu ketika dia sampai di rumah, dengan begitu gembira ia meminta izin kepada ibunya agar ia boleh mencuci tangan beliau. Ibunya merasa sedikit asing, aneh, juga bahagia dan perasaan-perasaan lainnya bercampur jadi satu.

Sang Ibu kemudian memberikan kedua tangannya kepada sang anak. Lalu anak muda tersebut membersihkan tangan Sang Ibu dengan perlahan.

Airmatanya mulai menetes saat itu. Ini pertama kalinya ia menyadari bahwa tangan ibunya sudah penuh dengan kerutan, dan terdapat banyak memar dan kapalan di sana sini . Beberapa memar sepertinya terasa begitu sakit, sampai-sampai Sang Ibu menggigil ketika memar tersebut dibersihkan.

Ini pertama kalinya anak muda tersebut menyadari bahwa kedua tangan yang sedang dibersihkan inilah yang digunakan Sang Ibu setiap hari untuk mencuci pakaian banyak orang, sehingga Sang Ibu dapat membiayai biaya sekolah anaknya.

Memar-memar dan kapalan yang ada di tangan Sang Ibu adalah harga yang harus dibayar atas kelulusan anak tersebut, atas prestasinya yang luar biasa, dan untuk masa depannya. Setelah selesai mencuci tangan Sang Ibu, anak muda tersebut diam-diam mencuci sisa baju yang belum sempat dicuci oleh ibunya. Dan malam itu, anak dan ibu tersebut berbincang sangat lama sekali.

Besok paginya, anak muda tersebut bergegas menemui sang direktur. Direktur tersebut menangkap airmata di wajah anak muda tersebut. Ia pun kemudian bertanya : “Bisa Anda ceritakan apa yang telah Anda lakukan kemarin dan apa pelajaran yang Anda dapat dari sana ?”

Anak muda tersebut menjawab : “Saya mencuci tangan Ibu saya, dan kemudian saya menyelesaikan sisa cucian Ibu yang belum tercuci “

“Tolong ceritakan perasaan Anda ketika itu” ujar Direktur lagi.

Lalu anak muda itu menjawab : ” Pertama, saya sekarang tahu apa arti apresiasi. Tanpa ibu saya, tidak akan pernah ada seorang saya hari ini. Kedua, saya baru menyadari betapa sulit dan beratnya Ibu menjalani pekerjaannya. Dan dengan bekerja membantu Ibu, ternyata pekerjaan itu dapat meringankan beban Ibu. Ketiga, saya datang hari ini untuk mengapresiasi betapa penting dan bernilainya hubungan keluarga”

Mendengar itu lalu Direktur tersebut berkata : “Inilah yang saya cari dari seorang calon manager. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi dan menghargai bantuan orang lain, seseorang yang tahu persis perjuangan orang lain untuk mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menempatkan uang sebagai tujuan hidup satu-satunya. Oleh karena itu mulai hari ini anda diterima bekerja disini…!”.

Subhanallah sahabat Lentera, Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mencintai ibu kita dengan tulus dan kita perhatikan sosok ibu kita yang telah banyak berkorban untuk kita?

Lakukan hal yang belum pernah kita lakukan untuk ibu kita, karena itu akan membuat ibu kita terkesan dan bahagia. Selamat mencoba!!!

Semoga bermanfaat bagi yang membacanya .....
 
Sumber: Lentera
 

Friday, 23 November 2012

Satu Kesalahan dapat Menghapus Seluruh Kebaikan

Hati manusia adalah sebuah cermin, sangat jelas memantulkan apa yang ada di hadapannya, sekaligus sangat mudah untuk pecah berantakan. Dan engkau tahu, ketika sebuah cermin telah pecah berantakan, tak mungkin dapat disatukan dan dikembalikan sebagamana asalnya. Demikian juga dengan hati, selama ia belum retak oleh sebuah kesalahan, ia akan memantulkan segala sesuatu dengan apa adanya, namun ingatlah ketika segumpal hati mulai retak atau bahkan pecah, akan sangat sulit (atau bahkan tidak mungkin lagi) ia mampu memantulkan segala sesuatu apa adanya.

Saturday, 17 November 2012

Yakinlah, maka segalanya akan terjadi seperti yang kita yakini

Keyakinan akan mampu merubah apa yang dianggap tidak mungkin menjadi sesuatu yang dengan mudah bisa diwujudkan


Kadang tiba-tiba melintas dapat angan kita sesuatu yang sangat kita inginkan namun sangat jauh dari jangkauan. Kondisi saat lintasan keinginan muncul bertolak belakang dengan kondisi nyata yang memungkinkan bagi kita untuk mengejar keinginan tersebut.

Dengan alasan itu pula, seringkali kita kemudian mengambil keputusan untuk mengabaikan lintasan keinginan atau bahkan dengan sengaja membunuhnya agar tidak lagi muncul dan melintas dalam angan. Sering pula kita membunuh lintasan-lintasan keinginan dengan kata-kata sederhana kita, 'ah, menghayal kok kebablasan'.

Sebenarnya tidak ada impian yang terlalu tinggi, tidak ada keinginan yang berada di luar batas kemampuan kita untuk mencapainya. Ada satu ayat dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa Tuhan tidak akan membebani seorang jiwa (diri) kecuali Ia menganugerahkan kepadanya kemampuan dan potensi untuk menanggungnya. Yang dibutuhkan untuk setiap impian, setiap mimpi, setiap visi, setiap cita hanyalah sebuah keyakinan, sebuah tekad yang selalu menyala.

Satu hal pasti yang perlu disadari bagi siapapun yang mulai meyakini dan mengimpikan sesuatu adalah bahwa setiap impian, setiap keinginan, setiap cita tidak mungkin dapat diraih tanpa ada rintangan, tanpa ada halangan, tanpa hambatan yang bahkan akan membuat orang tersebut akan merasa bahwa apa yang selama ini diyakini, diimpikan, diinginkan mungkin tidak akan bisa dicapai.

Itulah saat di mana keyakinan diuji, saat ketika tekad mendapat lawan sepadan, saat mimpi benar-benar berada dalam garis tipis antara sirna atau menjadi nyata. Jika kita menyerah dan membenarkan seluruh kesemuan yang menunjukkan betapa salah apa  yang kita yakini, maka saat itu pula runtuhlah seluruh apa yang selama ini kita yakini, kita hidupkan dalam hati, kita perjuangkan.

Namun, jika kita tetap melangkah dengan keyakinan kita, dengan titik tuju yang kita tetapkan di awal langkah, dengan tujuan yang selama ini kita inginkan, maka percayalah perlahan-lahan setiap kesemuan yang seakan menunjukkan segala kesalahan apa yang kita yakini, apa yang kita impikan, akan tersingkap berganti titik-titik terang yang semakin jelas menunjukkan jalan menuju pencapaian keinginan, menuju pencapaian tujuan, menuju perwujudan mimpi yang selama ini kita simpan dan kita hidupkan dalam jiwa kita.

Dan saat kita mampu melampaui titik puncak tantangan dari setiap keinginan, setiap mimpi, setiap visi, maka yang kita dapatkan hanyalah bahwa setiap perisitwa, setiap kejadian semua melangkah menuju titik akhir cita dan tujuan yang kita hidupkan dalam jiwa, dan segalanya menjadi berjalan seperti seakan berada dalam kendali kita, segalanya terjadi seperti seakan melayani bagi pemenuhan mimpi dan harapan kita.

Maka, bagimu setiap orang yang masih percaya dengan mimpi, masih meyakini kebenaran visi, jangan pernah sekali-kali mengabaikan kilasan apapun yang melintas dalam alam sadar maupun bawah sadarmu, biarkan semuanya tetap hidup dalam hatimu, peliharalah agar semua tetap tumbuh dalam jiwamu, hingga suatu saat situasi dan kondisimu siap untuk menerima wujud dari setiap mimpimu.

Ingatlah, sebenarnya apapun yang kita impikan pasti akan diwujudkan oleh Tuhan pada saat kita telah siap untuk menerimanya. Jadi jangan biarkan impian padam sebelum terwujudkan....

Hanya yakin yang bisa mengubah mustahil menjadi mungkin
Hanya keteguhan yang bisa mengubah rapuh menjadi kukuh
Hanya kepasrahan yang bisa mengubah musibah menjadi berkah
maka melangkahlah......

Sunday, 4 November 2012

Tentang Cinta

Berbicara tentang cinta sebenarnya berbicara tentang keindahan, keagungan, kesucian, kedamaian, kebahagiaan. Berbicara tentang cinta sebenarnya adalah juga berbicara tentang hakikat penciptaan, alasan keberadaan semesta raya.

Wednesday, 19 September 2012

Tulus dan Nilai Perbuatan

Tulus dan Ikhlas, dua kata yang tentu tidak asing di telinga kita. Namun, apa makna yang terdapat dalam dua kata tersebut, mungkin perlu kita renungkan bersama.
Tulus adalah perasaan rela atas sesuatu  yang kita kerjakan. Biasanya ini berada di bagian awal dan saat melakukan sesuatu. Sedangkan ikhlas adalah perasaan rela atas apa yang sudah dilakukan. Tidak peduli dan tidak pula memikirkan apa pendapat orang tentang apa yang ia lakukan, bahkan tidak pula merasa sakit hati atau kecewa ketika perbuatan yang ia lakukan dicurigai dan ditanggapi dengan buruk.
Orang yang tulus dan ikhlas dalam tiap perbuatan dan tindakannya tidak pernah berpikir untuk memperoleh keuntungan pribadi dari perbuatan yang dilakukannya. Baginya, alasan utama suatu perbuatan dilakukan adalah bahwa perbuatan itu bermanfaat bagi orang lain--setidaknya bagi satu orang--dan dilakukan karena Allah (seseorang yang telah berada dalam level ini biasanya tidak pernah apapun ketika hendak melakukan suatu perbuatan kecuali, apakah perbuatan itu baik dan diperlukan atau apakah perbuatan itu bertentangan dengan hukum Allah atau tidak).

Tulus, Ikhlas, dan Nilai Perbuatan
Tingkat ketulusan dan keikhlasan sangat menentukan nilai perbuatan yang dilakukan seseorang, semakin tulus orang semakin besar nilai dan kemanfaatan perbuatan yang ia lakukan. Semakin rendah tingkat ketulusan (ketika pamrih menjadi pendorong utama perbuatan yang dilakukan), semakin dangkal nilai dan kemanfaatan perbuatan tersebut.
Mengapa demikian?
Karena orang yang tulus dan ikhlas ketika melakukan suatu perbuatan maka ia akan melakukannya dengan sepenuh hati, segenap jiwa. Dan ketika seseorang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, maka tentu ia akan melakukannya dengan segenap kemampuan terbaik yang ia miliki. Ia akan mencurahkan segala yang dimilikinya agar apa yang ia lakukan benar-benar menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Selain itu, ketika suatu perbuatan dilakukan dengan sepenuh hati, orang lain yang menerima efek dari perbuatan itu juga akan merasakan kesungguhan dalam tindakan tersebut. Ia pun akan merasakan kehangatan yang mengalir dari perbuatan tersebut. Sesuatu yang berasal dari hati akan sampai ke hati, demikian pernah seorang bijak berkata.
Bahkan, sebuah perbuatan yang dilandasi oleh tulus dan ikhlas, bukan saja akan diterima dengan tangan terbuka dan memberi kebahagiaan bagi si penerima, namun seringkali juga sebuah perbuatan yang tulus akan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, berusaha memberi kemanfaatan kepada orang lain tanpa memikirkan keuntungan yang dapat diperoleh secara pribadi.
Lalu, bagaimana orang yang tulus bisa memenuhi kebutuhannya ketika ia tidak lagi mengharap keuntungan apapun dari perbuatan yang dilakukannya?
Justru karena ia tidak mengharapkan sesuatu maka ia mendapatkan sesuatu. Maksudnya, karena orang yang tulus melakukan sesuatu bukan sekedar untuk mendapatkan sesuatu namun karena tanggung jawab, kemanfaatan bagi orang lain, dan kebaikan yang ada dalam perbuatan itu sendiri, maka apapun hasil yang ia peroleh dari perbuatan yang dilakukan hanya dipandangnya sebagai side effect (efek samping) dari perbuatan yang ia lakukan. Hanya sekedar bonus. Dan kita tahu setiap orang yang menerima bonus pasti akan merasa senang. Dan ketika kita senang, maka perbuatan dan pekerjaan yang kita lakukan juga akan semakin baik.
Selain itu, orang yang melakukan segala sesuatu dengan tulus ikhlas, maka ia akan melakukannya dengan sepenuh hati, segenap kemampuan terbaik yang dimilikinya. Dan kita tahu semua bahwa ketika orang melakukan sesuatu dengan kemampuan terbaik yang dimilikinya, maka hasilnya pun tentu akan memuaskan, memuaskan bagi dirinya dan memuaskan bagi orang lain. Dan ketika orang lain merasa puas bahkan sangat puas dengan apa yang kita lakukan, maka tentu saja setidaknya mereka akan menerima kita dengan baik, penuh persahabatan. Dan itu merupakan jalan awal bagi kita untuk bertemu dengan hal-hal luar biasa dalam hidup.

Tanda Sebuah Perbuatan Dilandasi Ketulusan
Sebenarnya kita tidak dapat mengukur dengan tepat apakah suatu perbuatan itu tulus atau tidak, namun kita dapat melihat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa suatu perbuatan yang dilakukan seseorang itu tulus atau tidak.

Di antara tanda-tanda itu adalah:
Pertama, Perbuatan tulus itu berasal dari hati dan akan menembus hati juga. Sehingga si penerima ketulusan pasti akan merasakan ketulusan dalam perbuatan yang diberikan. Perbuatan yang dilakukan dengan penuh ketulusan akan sangat membekas dan berkesan di hati orang-orang yang mendapat manfaat dari perbuatan tersebut. Sehingga mereka akan selalu teringat akan perbuatan tersebut dan menganggap orang yang melakukannya sebagai penolong dan penyelamatnya.
Kedua, Perbuatan tulus akan menghasilkan rasa syukur dan terima kasih yang tulus dari orang yang mendapat manfaat darinya. Setiap orang yang mendapat manfaat dari orang lain tentu akan berterima kasih, namun terima kasih dan rasa syukur yang tulus bukan terima kasih yang diucapkan hanya untuk menyenangkan si pemberi manfaat, namun terima kasih yang benar-benar keluar dari ketulusan hati. Bahkan kadang ia sendiri tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada si pemberi manfaat, tapi kepada banyak orang bahkan ia banyak menceritakan kebaikan dan terima kasih kepada si pemberi manfaat.
Ketiga, Perbuatan tulus akan menginspirasi si penerima manfaat sehingga ia akan berusaha melakukan hal yang sama. Berusaha memberi manfaat kepada orang lain sebagaimana ia pernah juga mendapat manfaat dari perbuatan orang lain.

Semoga kita mulai mampu berjalan di atas ketulusan dan keikhlasan. amin


inspired by you and your sist

Friday, 20 July 2012

Kesejatian Hidup dan Manusia Utama dalam Serat Pepali Ki Ageng Selo



Serat Pepali merupakan salah satu bentuk kesusastraan Jawa yang berisi tentang pantangan-pantangan (larangan-larangan) untuk memberikan nasehat dan petuah kehidupan.
Sebagaimana karya sastra Jawa lain, serat Pepali pun ditulis dalam bentuk tembang (entah itu sinom, gambuh, maskumambang atau yang lain). Jadi nama serat pepali sebenarnya lebih didasarkan pada isi yang terdapat di dalam sebuah karya sastra yang berbentuk larangan-larangan, bukan merupakan salah satu jenis sastra Jawa lama (baca; tembang).

Sekilas Tentang Ki Ageng Selo dan Serat Pepali Ki Ageng Selo
Ketika mendengar ataupun membaca Ki Ageng Selo--terutama bagi masyarakat Jawa Tengah--tentu yang terbayang adalah seorang tokoh saksi yang dengan kesaktiannya mampu menangkap petir. Seorang tokoh legendaris penyebar Islam yang sekarang makamnya berada di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
Ki Ageng Selo--atau sering juga disebut Syaekh Ngabdurrahman Selo atau Raden Bagus Sogom ketika beliau masih kecil--adalah salah seorang tokoh penyebar Islam yang memiliki trah raja-raja Majapahit. Ayah beliau adalah Ki Ageng Getas Pendowo, putera Ki Ageng Tarub II atau Raden Bondan Kejawen--salah seorang putera raja Majapahit terakhir dari seorang selir--. 
Meskipun beliau memiliki trah raja Majapahit, beliau dikenal juga sebagai seorang petani yang tekun--kisah penangkapan petir terjadi saat Ki Ageng Selo mencangkul di sawah--sekaligus seorang dalang yang mumpuni.
Ki Ageng Selo juga diyakini sebagai nenek moyang dari raja-raja Mataram Islam, karena Panembahan Senopati (raja Mataram Islam pertama) adalah cicit dari Ki Ageng Selo.
Oleh masyarakat sekitar makam, Ki Ageng Selo memang diyakini pernah membuat pepali (larangan-larangan) yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat sekitar makam, seperti tidak boleh menjual nasi, tidak boleh menanam umbi jalar atau sejenisnya di depan rumah, dan lain sebagainya.
Serat Pepali yang akan kita bahas kali ini diyakini sebagai salah satu karya dari Ki Ageng Selo--sebuah karya sastra yang berisi larangan-larangan (tampaknya ini merupakan gaya dari Ki Ageng Selo dalam menyampaikan nasehat-nasehatnya). Setidaknya ada tujuh larangan utama yang dipetuahkan Ki Ageng Selo dalam bait-bait Serat Pepali, yakni: aja ngawe angkuh (jangan angkuh), aja wengis lan aja jail (jangan bengis dan jangan jail/suka mengganggu), aja ati serakah (jangan serakah)aja celimut (jangan suka mencuri)aja mburu aleman (jangan mengejar pujian), aja ladak wong ladak pan gelis mati (jangan sombong orang sombong cepat mati)dan  aja ati ngiwa (jangan memiliki hati yang menyimpang).
Sebagaimana karya-karya sastra Jawa kuno lainnya, dalam serat Pepali Ki Ageng Selo sebenarnya juga terkandung hal-hal yang lebih mendalam dalam alam pikiran orang jawa yakni terkait dengan kesejatian hidup dan bagaimana menjadi manusia utama (insan kamil).

Pandangan Ki Ageng Selo tentang Kehidupan yang Sejati dalam Serat Pepali
Orang Jawa memandang kehidupan sejati adalah ketika jiwa-jiwa manusia mampu mencapai penyatuan dengan sang Khaliq. Kehidupan sejati adalah ketika manusia mampu mengembangkan sifat-sifat kemanusiaannya hingga ia mampu menebar kasih dan menciptakan harmonisasi dengan lingkungannya. Sebagaimana tokoh Jawa lainnya, dalam Serat Pepali Ki Ageng Selo sedikit banyak juga membahas tentang kehidupan sejati dan bagaimana menjalani hidup agar mampu mencapai kehidupan sejati. 

Berikut ini beberapa bait dalam Serat Pepali di mana Ki Ageng Selo memberi nasehat-nasehat tentang hidup dan kehidupan:

1. Bait ke-28:
Wruhanira tekad ingkang luwih luhung
Poma dipun ngati-ati
Akeh sambekalanipun
Wala mukmin sadayeki
Pirang bara manggih yektos

Ketahuilah tekat yang lebih tinggi
Jalankanlah dengan hati-hati
Banyak rintangannya
Wali mukmin semuanya
Mudah-mudahan benar-benar menemukannya.

Bait ke-31:

Wruhanira wong ahli ilmu puniku
Serta tekad ingkang becik
Cinandhang suwarga mbesok
Suwarga pepiti yekti
Ana luhur ana asor

Ketahuilah orang berilmu itu
Serta orang yang bertekat baik itu
Kepadanya disediakan surga kelak
Tujuh surga benar-benar
Ada tinggi ada rendah.


3. Bait ke-39



Aneng dunya dipun sregep anenandur
Lan dipun sregep reresik
Tegese sregep nenandur
Agame ngamaling dhiri
Kan rila ing lair batos

Di dunia hendaknya rajin bertanam
Dan rajin membersihkan
Maksudnya rajin bertanam
Ialah berbuat baik
Dengan rela lahir batin.
Maksud dari reresik dijelaskan pada bait selanjutnya, yaitu :

De maknane kang bangsa resik puniki
Karam makruh den sumingkir
Dohna ing dedosa sagung
Dosa samar-samar gaib
Eling-eling den waspada

Akan makna hal bersih itu
Haram makruh hendaknya dijauhi
Jauhkan diri dari segala dosa
Dosa samar-samar goib
Ingat-ingatlah dengan waspada.



4. Bait ke-53
Poma aja sumelang ing galih
Lahir miwah batos
Janji sira anetepi bae
Ing unine supatra kadyeki
Pasthi datan kedhip
Kang Allah mukidun

Hendaknya jangan was-was dalam hati
Lahir serta batin
Asal kamu menepati
Bunyi kalimat sebai ini
Pasti tak menutup mata
Allah mukidin.


5. Bait ke-67 - 69
Ingkan gesang iku samya den paring
Rejeki ing Allah
Ana akeh ana thithik
Apa pinantes ing kira

Yang hidup itu semuanya diberi
Rejeki oleh Tuhan
Ada yang banyak ada yang sedikit
Masing-masing menurut kepantasannya

De ingkan pinaringan rejeki luwih
Den sukur ing Allah
Ingkang pinaringan thithik
Den narima ing Pangeran

Yang diberi rejeki banyak
Bersukurlah kepada Allah
Dan yang diberi rejeki sedikit
Berterima kasihlah kepada Tuhan.
Di dalam bait lain dijelaskan bahwa yang terpenting hidup di dunia ini adalah mendapat ridho dari Allah, nasihat tersebut dapat dilihat pada bait keenam puluh Sembilan serat pepali Ki Ageng Sela, yaitu :
Wruhanira wong urip puniki
Dipun ngrasa yen bakal palastra
Tanwun ngaraha slamete
Tegesi slamet iku
Antuk rahmat saking Hyang Widhi
Tegese aran rahmat
Cinandang swarga gung
Sarwa dhangan ngakhirat mukti lestari
Sapangkat murwatira

Ketahuilah orang hidup itu
Bahwa ia akan menemui ajal
Baiklah mengusahakan keselamatan
Arti selamat itu
Memperoleh rahmat Hyang Widi
Arti sebuah rahmat
Memperoleh surga mulia
Selanjutnya arti surga
Serba senang, diakhirat kemuktian kekal
Menurut derajat dan pantasnya.

Manusia hidup selayaknya mencari ridho Allah, karena kebahagian yang sesungguhnya adalah mendapatkan rahmat dari Tuhan bukan kebahagian dari benda-benda yang sifatnya tidak kekal


Pandangan Ki Ageng Selo tentang Manusia Utama dalam Serat Pepali
Manusia utama (insan kamil) merupakan salah satu hal yang menjadi fokus dan tujuan pencapaian manusia. Orang Jawa--bahkan mungkin sebelum Islam--memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan manusia utama ini, sehingga sejak jaman dulu banyak karya dari para pujangga Jawa yang membahas tentang bagaimana manusia utama dan bagaimana jalan hidup yang hendaknya ditempuh agar dapat menjadi manusia utama. Demikian juga dengan Ki Ageng Selo, beliau juga tidak melewatkan pembahasan tentang manusia utama (insan kamil) dalam bait-bait serat pepali yang disusunnya sebagai wejangan bagi anak cucu.

Berikut ini beberapa baik yang menunjukkan hal tersebut:
1. Bait ke-4:

Padha sira ngestokena kaki
Tutur ingsun kang nedya utama
Angarjani sarirane
Way nganti seling surup
Yen tumpang suh iku niwasi
Hanggung atelanjukan
Temah sasar susur
Tengraning jalma utama
Bisa nimbang kang ala lawan kang becik
Rasa rasaning kembang

Hendaklah diperhatikan kaki
Nasihatku yang bertujuan utama
Membahagiakan dirimu
Jangan sampai salah terima
Bila tumpang balik menewaskan
Selalu keliru
Hingga simpang siur
Tanda manusia utama
Dapat menimbang yang buruk dan yang baik
Rasa dan rasa bunga.
Ki Ageng Sela menjelaskan bahwa manusia utama adalah manusia yang dapat menimabang baik dan buruk, selain itu manusia utama adalah manusia yang dapat membedakan manusia sejati (sukmanya) dan alat hidupnya (raganya)


2. Bait ke-9:
Pae wong kang makrifat sejati
Tingkah una-unine prasaja
Dadi panengran gedhene
Eseme kadi juruh
Saujare manis trus ati
Iku ingaran dhomas
Wong bodho puniku
Ingkang jero isi emas
Ingkang nduwe bale kencana puniki
Bola bali kinenca

Berbedalah orang yang makrifat sejati
Tingkah dan ucapkatanya bersahaja
Menjadi tanda kebesarannya
Senyumnya bagai kental gula
Tiap ucapannya selalu manis terus hati
Itulah yang disebut dhomas
Orang bodoh yang
Jiwanya berisi emas
Yang memiliki tachta kencana ini
Berulang-ulang direncanakan.
Ki Ageng Sela menjelaskan bahwa manusia utama hatinya berisi emas (maksudnya hatinya begitu indah) dan seolah-olah mempunyai tahta kencana dalam dirinya.


3. Bait ke-73 - 75:
Jalma luwih medharken mamanis
Kang cinatur kitap tafsir alam
Tinetepan upamane
Ingkang segara agung
Lawan papan kang tanpa tulis
Tunjung tanpa selaga
Sapa gawe iku
Kalawan jenenging Allah
Lan Muhammad anane ana ing endi
Yawn sirna ana apa

Manusia terpilih membentangkan perihal yang sedap
Yang dibicarakan dalam kitab tafsir alam
Dinyatakan misalnya
Samudera besar
Dan tempat yang tak bertulis
Teratai yang tak berkuncup
Siapa yang membuat
Dan nama Allah
Dan Muhammad dimana adanya
Bila lenyap apa yang masih ada.

Pada bait selanjutnya juga dijelaskan tentang manusia utama, berikut :
Damar murup tanpa sumbu nenggih
Godhong ijo ingkang tanpa wreksa
Modin tan ana bedhuge
Sentek pisan wus rampung
Tanggal pisan purnama sidi
Panglong grahana lintang
Iku semunipun
Kang sampun awas ing cipta
Aja sira katungkul maca pribadi
Takokna kang wus wigya

Pelita menyala tak bersumbu
Daun hijau tak berpohon
Modin taka da bedugnya
Sekali singgung sudah tamat
Tanggal satu bulan purnama
 Panglong gerhana bintang
Itulah lambang
Manusia yang sudah waspada akan ciptaNya
Jangan selalu membaca sendiri saja
Tanyakan kepada yang sudah arif.

Di dalam bait selanjutnya dijelaskan lagi tentang perihal tersebut, yaitu :
Lawan sastra adi kang linuwih
Lawan kuran pira sastra nira
Estri priyadi tunggale
Lawan ingkang tumuwuh
Sapa njenengaken sireki
Duk sira palakrama
Kang ngawinken iku
Sira yen bukti punika
Sapa ndulang yen tan weruha sayekti
Jalma durung utama

Dan sastra indah utama berapa jumlahnya
Kitab qur’an berapa sastranya
Perempuan dan laki-laki utam ada berapa jodoh
Dan berapa jumlahnya yang tumbuh
Siapa yang memberi nama kepadamu
Waktu kamu kawin
Siapa yang mengawinkan
Kalau makan siapa yang menyuap
Jika belum mengetahuinya sebenarnya
Belum menjadi manusia yang utama.

Demikian sekilas pandangan Ki Ageng Selo berkaitan dengan kehidupan sejati dan manusia utama yang terdapat dalam Serat Pepali Ki Ageng Selo,
Semoga bermanfaat…




Sumber:
Soetardi Soeryohoedoyo, Serat Pepali Ki Ageng Selo, (Surabaya: CV. Citra Jaya, 1980)

Tuesday, 29 May 2012

Nilai sebuah Karya

Memulai suatu karya dengan sebuah keikhlasan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, namun menjaga hati untuk tetap ikhlas ketika suatu karya mulai menampakkan hasil yang menguntungkan adalah jauh lebih sulit dan lebih menantang.

Seringkali kita melihat bahwa suatu karya menjadi luar biasa. Menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh pada lingkungan di mana karya itu berada. Bahkan seringkali menjadi ikon atau trend bagi perkembangan lebih lanjut bagi kemaslahatan dan kebaikan lingkungannya.

Namun demikian, tidak semua karya atau hasil kerja mampu menghasilkan nilai luar biasa. Banyak juga karya yang akhirnya hanya menjadi seperti sampah yang tersia-sia.

Ketika kita menengok karya yang ada di sekitar kita, pasti kita akan dapat mengira-ngira dan memprediksi mengapa suatu karya benar-benar menjadi bersinar dan cemerlang.

Ketika kita mencoba untuk melihat efek dan pengaruh sebuah karya pada lingkungan di mana ia berada, satu hal yang pasti akan kita temukan, bahwa kekuatan dan keluar biasaan sebuah karya sangat dipengaruhi oleh niat awal dan visi siapapun yang mengawali dan mendorongnya.

Niat--bagaimanapun juga--merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan kualitas sebuah karya. Semakin besar dan semakin tulus niat yang dimiliki oleh aktor utama karya, maka semakin luar biasa hasil yang akan didapatnya.

Ini bukan merupakan hal mudah. Mungkin terlalu mudah untuk diucapkan, namun terlalu sulit untuk dijalankan. Mengapa demikian? Karena ketulusan sangat terkait dengan gerak awal (need). Apakah ia berpijak pada keinginan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan, apakah ia berpijak pada keinginan sekedar untuk mengaktualisasikan diri, atau hanya karena mengejak ambisi dan keinginan untuk dipuji.

"Sesungguhnya segala perbuatan (amal) tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya segala sesuatu bergantung pada niat awalnya", demikian salah satu Sabda Manusia Agung bumi.

Namun, apakah ketulusan dan keikhlasan cukup untuk menumbuhkan suatu karya yang luar biasa?

Jawabannya jelas tidak. Ada banyak hal lain yang mesti dipersiapkan dan disediakan agar sebuah karya menjadi luar biasa. Ada kerja keras, ada kesanggupan untuk bertahan lebih lama, ada tantangan yang mesti dihadang, ada serangkaian penderitaan yang mesti dijalankan. Dan masih banyak lagi pra syarat-pra syarat yang diperlukan untuk mencapainya.

Semua hanya menghasilkan penderitaan, rasa sakit, kekecewaan, dan segala macam ketidak nyamanan yang tak mungkin dapat dilakukan oleh siapapun yang tidak memiliki ketulusan dan keikhlasan.

Sulit memang, tidak ada yang mudah untuk memulai sebuah karya. Tidak mudah untuk memperjuangkan sebuah karya agar benar-benar bermanfaat dan berguna.

Adakah yang lebih sulit dari ini?

Tentu saja ada. Menjaga keikhlasan agar tetap berada di hati ketika sebuah karya mulai menampakkan hasil yang menguntungkan. Menjaga agar hati tetap tulus ketika godaan keuntungan hasil yang melimpah mulai menari-nari di depan mata. Menjaga agar arah perjuangan tidak melenceng dari keinginan untuk memberi kemanfaatan menjadi keinginan untuk menagungkan diri sendiri.