Serat Pepali merupakan salah satu bentuk kesusastraan Jawa yang berisi tentang pantangan-pantangan (larangan-larangan) untuk memberikan nasehat dan petuah kehidupan.
Sebagaimana karya sastra Jawa lain, serat Pepali pun ditulis dalam bentuk tembang (entah itu sinom, gambuh, maskumambang atau yang lain). Jadi nama serat pepali sebenarnya lebih didasarkan pada isi yang terdapat di dalam sebuah karya sastra yang berbentuk larangan-larangan, bukan merupakan salah satu jenis sastra Jawa lama (baca; tembang).
Sekilas Tentang Ki Ageng Selo dan Serat Pepali Ki Ageng Selo
Ketika mendengar ataupun membaca Ki Ageng Selo--terutama bagi masyarakat Jawa Tengah--tentu yang terbayang adalah seorang tokoh saksi yang dengan kesaktiannya mampu menangkap petir. Seorang tokoh legendaris penyebar Islam yang sekarang makamnya berada di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
Ki Ageng Selo--atau sering juga disebut Syaekh Ngabdurrahman Selo atau Raden Bagus Sogom ketika beliau masih kecil--adalah salah seorang tokoh penyebar Islam yang memiliki trah raja-raja Majapahit. Ayah beliau adalah Ki Ageng Getas Pendowo, putera Ki Ageng Tarub II atau Raden Bondan Kejawen--salah seorang putera raja Majapahit terakhir dari seorang selir--.
Meskipun beliau memiliki trah raja Majapahit, beliau dikenal juga sebagai seorang petani yang tekun--kisah penangkapan petir terjadi saat Ki Ageng Selo mencangkul di sawah--sekaligus seorang dalang yang mumpuni.
Ki Ageng Selo juga diyakini sebagai nenek moyang dari raja-raja Mataram Islam, karena Panembahan Senopati (raja Mataram Islam pertama) adalah cicit dari Ki Ageng Selo.
Oleh masyarakat sekitar makam, Ki Ageng Selo memang diyakini pernah membuat pepali (larangan-larangan) yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat sekitar makam, seperti tidak boleh menjual nasi, tidak boleh menanam umbi jalar atau sejenisnya di depan rumah, dan lain sebagainya.
Serat Pepali yang akan kita bahas kali ini diyakini sebagai salah satu karya dari Ki Ageng Selo--sebuah karya sastra yang berisi larangan-larangan (tampaknya ini merupakan gaya dari Ki Ageng Selo dalam menyampaikan nasehat-nasehatnya). Setidaknya ada tujuh larangan utama yang dipetuahkan Ki Ageng Selo dalam bait-bait Serat Pepali, yakni: aja ngawe angkuh (jangan angkuh), aja wengis lan aja jail (jangan bengis dan jangan jail/suka mengganggu), aja ati serakah (jangan serakah), aja celimut (jangan suka mencuri), aja mburu aleman (jangan mengejar pujian), aja ladak wong ladak pan gelis mati (jangan sombong orang sombong cepat mati), dan aja ati ngiwa (jangan memiliki hati yang menyimpang).
Sebagaimana karya-karya sastra Jawa kuno lainnya, dalam serat Pepali Ki Ageng Selo sebenarnya juga terkandung hal-hal yang lebih mendalam dalam alam pikiran orang jawa yakni terkait dengan kesejatian hidup dan bagaimana menjadi manusia utama (insan kamil).
Pandangan Ki Ageng Selo tentang Kehidupan yang Sejati dalam Serat Pepali
Orang Jawa memandang kehidupan sejati adalah ketika jiwa-jiwa manusia mampu mencapai penyatuan dengan sang Khaliq. Kehidupan sejati adalah ketika manusia mampu mengembangkan sifat-sifat kemanusiaannya hingga ia mampu menebar kasih dan menciptakan harmonisasi dengan lingkungannya. Sebagaimana tokoh Jawa lainnya, dalam Serat Pepali Ki Ageng Selo sedikit banyak juga membahas tentang kehidupan sejati dan bagaimana menjalani hidup agar mampu mencapai kehidupan sejati.
Berikut ini beberapa bait dalam Serat Pepali di mana Ki Ageng Selo memberi nasehat-nasehat tentang hidup dan kehidupan:
1. Bait ke-28:
Wruhanira tekad ingkang luwih luhung
Poma dipun ngati-ati
Akeh sambekalanipun
Wala mukmin sadayeki
Pirang bara manggih yektos
Ketahuilah tekat yang lebih tinggi
Jalankanlah dengan hati-hati
Banyak rintangannya
Wali mukmin semuanya
Mudah-mudahan benar-benar menemukannya.
Bait ke-31:
Wruhanira wong ahli ilmu puniku
Serta tekad ingkang becik
Cinandhang suwarga mbesok
Suwarga pepiti yekti
Ana luhur ana asor
Ketahuilah orang berilmu itu
Serta orang yang bertekat baik itu
Kepadanya disediakan surga kelak
Tujuh surga benar-benar
Ada tinggi ada rendah.
3. Bait ke-39
Aneng dunya dipun sregep anenandur
Lan dipun sregep reresik
Tegese sregep nenandur
Agame ngamaling dhiri
Kan rila ing lair batos
Di dunia hendaknya rajin bertanam
Dan rajin membersihkan
Maksudnya rajin bertanam
Ialah berbuat baik
Dengan rela lahir batin.
Maksud dari reresik dijelaskan pada bait selanjutnya, yaitu :
De maknane kang bangsa resik puniki
Karam makruh den sumingkir
Dohna ing dedosa sagung
Dosa samar-samar gaib
Eling-eling den waspada
Akan makna hal bersih itu
Haram makruh hendaknya dijauhi
Jauhkan diri dari segala dosa
Dosa samar-samar goib
Ingat-ingatlah dengan waspada.
4. Bait ke-53
Poma aja sumelang ing galih
Lahir miwah batos
Janji sira anetepi bae
Ing unine supatra kadyeki
Pasthi datan kedhip
Kang Allah mukidun
Hendaknya jangan was-was dalam hati
Lahir serta batin
Asal kamu menepati
Bunyi kalimat sebai ini
Pasti tak menutup mata
Allah mukidin.
5. Bait ke-67 - 69
Ingkan gesang iku samya den paring
Rejeki ing Allah
Ana akeh ana thithik
Apa pinantes ing kira
Yang hidup itu semuanya diberi
Rejeki oleh Tuhan
Ada yang banyak ada yang sedikit
Masing-masing menurut kepantasannya
De ingkan pinaringan rejeki luwih
Den sukur ing Allah
Ingkang pinaringan thithik
Den narima ing Pangeran
Yang diberi rejeki banyak
Bersukurlah kepada Allah
Dan yang diberi rejeki sedikit
Berterima kasihlah kepada Tuhan.
Di dalam bait lain dijelaskan bahwa yang terpenting hidup di dunia ini adalah mendapat ridho dari Allah, nasihat tersebut dapat dilihat pada bait keenam puluh Sembilan serat pepali Ki Ageng Sela, yaitu :
Wruhanira wong urip puniki
Dipun ngrasa yen bakal palastra
Tanwun ngaraha slamete
Tegesi slamet iku
Antuk rahmat saking Hyang Widhi
Tegese aran rahmat
Cinandang swarga gung
Sarwa dhangan ngakhirat mukti lestari
Sapangkat murwatira
Ketahuilah orang hidup itu
Bahwa ia akan menemui ajal
Baiklah mengusahakan keselamatan
Arti selamat itu
Memperoleh rahmat Hyang Widi
Arti sebuah rahmat
Memperoleh surga mulia
Selanjutnya arti surga
Serba senang, diakhirat kemuktian kekal
Menurut derajat dan pantasnya.
Pandangan Ki Ageng Selo tentang Manusia Utama dalam Serat Pepali
Manusia utama (insan kamil) merupakan salah satu hal yang menjadi fokus dan tujuan pencapaian manusia. Orang Jawa--bahkan mungkin sebelum Islam--memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan manusia utama ini, sehingga sejak jaman dulu banyak karya dari para pujangga Jawa yang membahas tentang bagaimana manusia utama dan bagaimana jalan hidup yang hendaknya ditempuh agar dapat menjadi manusia utama. Demikian juga dengan Ki Ageng Selo, beliau juga tidak melewatkan pembahasan tentang manusia utama (insan kamil) dalam bait-bait serat pepali yang disusunnya sebagai wejangan bagi anak cucu.
Berikut ini beberapa baik yang menunjukkan hal tersebut:
1. Bait ke-4:
Padha sira ngestokena kaki
Tutur ingsun kang nedya utama
Angarjani sarirane
Way nganti seling surup
Yen tumpang suh iku niwasi
Hanggung atelanjukan
Temah sasar susur
Tengraning jalma utama
Bisa nimbang kang ala lawan kang becik
Rasa rasaning kembang
Hendaklah diperhatikan kaki
Nasihatku yang bertujuan utama
Membahagiakan dirimu
Jangan sampai salah terima
Bila tumpang balik menewaskan
Selalu keliru
Hingga simpang siur
Tanda manusia utama
Dapat menimbang yang buruk dan yang baik
Rasa dan rasa bunga.
Ki Ageng Sela menjelaskan bahwa manusia utama adalah manusia yang dapat menimabang baik dan buruk, selain itu manusia utama adalah manusia yang dapat membedakan manusia sejati (sukmanya) dan alat hidupnya (raganya)
2. Bait ke-9:
Pae wong kang makrifat sejati
Tingkah una-unine prasaja
Dadi panengran gedhene
Eseme kadi juruh
Saujare manis trus ati
Iku ingaran dhomas
Wong bodho puniku
Ingkang jero isi emas
Ingkang nduwe bale kencana puniki
Bola bali kinenca
Berbedalah orang yang makrifat sejati
Tingkah dan ucapkatanya bersahaja
Menjadi tanda kebesarannya
Senyumnya bagai kental gula
Tiap ucapannya selalu manis terus hati
Itulah yang disebut dhomas
Orang bodoh yang
Jiwanya berisi emas
Yang memiliki tachta kencana ini
Berulang-ulang direncanakan.
Ki Ageng Sela menjelaskan bahwa manusia utama hatinya berisi emas (maksudnya hatinya begitu indah) dan seolah-olah mempunyai tahta kencana dalam dirinya.
3. Bait ke-73 - 75:
Jalma luwih medharken mamanis
Kang cinatur kitap tafsir alam
Tinetepan upamane
Ingkang segara agung
Lawan papan kang tanpa tulis
Tunjung tanpa selaga
Sapa gawe iku
Kalawan jenenging Allah
Lan Muhammad anane ana ing endi
Yawn sirna ana apa
Manusia terpilih membentangkan perihal yang sedap
Yang dibicarakan dalam kitab tafsir alam
Dinyatakan misalnya
Samudera besar
Dan tempat yang tak bertulis
Teratai yang tak berkuncup
Siapa yang membuat
Dan nama Allah
Dan Muhammad dimana adanya
Bila lenyap apa yang masih ada.
Pada bait selanjutnya juga dijelaskan tentang manusia utama, berikut :
Damar murup tanpa sumbu nenggih
Godhong ijo ingkang tanpa wreksa
Modin tan ana bedhuge
Sentek pisan wus rampung
Tanggal pisan purnama sidi
Panglong grahana lintang
Iku semunipun
Kang sampun awas ing cipta
Aja sira katungkul maca pribadi
Takokna kang wus wigya
Pelita menyala tak bersumbu
Daun hijau tak berpohon
Modin taka da bedugnya
Sekali singgung sudah tamat
Tanggal satu bulan purnama
Panglong gerhana bintang
Itulah lambang
Manusia yang sudah waspada akan ciptaNya
Jangan selalu membaca sendiri saja
Tanyakan kepada yang sudah arif.
Di dalam bait selanjutnya dijelaskan lagi tentang perihal tersebut, yaitu :
Di dalam bait selanjutnya dijelaskan lagi tentang perihal tersebut, yaitu :
Lawan sastra adi kang linuwih
Lawan kuran pira sastra nira
Estri priyadi tunggale
Lawan ingkang tumuwuh
Sapa njenengaken sireki
Duk sira palakrama
Kang ngawinken iku
Sira yen bukti punika
Sapa ndulang yen tan weruha sayekti
Jalma durung utama
Dan sastra indah utama berapa jumlahnya
Kitab qur’an berapa sastranya
Perempuan dan laki-laki utam ada berapa jodoh
Dan berapa jumlahnya yang tumbuh
Siapa yang memberi nama kepadamu
Waktu kamu kawin
Siapa yang mengawinkan
Kalau makan siapa yang menyuap
Jika belum mengetahuinya sebenarnya
Belum menjadi manusia yang utama.
Demikian sekilas
pandangan Ki Ageng Selo berkaitan dengan kehidupan sejati dan manusia utama
yang terdapat dalam Serat Pepali Ki Ageng Selo,
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Soetardi Soeryohoedoyo, Serat Pepali Ki Ageng Selo, (Surabaya: CV. Citra Jaya, 1980)